SENDIRI MEMBERI ARTI
Oleh: Zakaria Putra
Ali, itu
panggilan namaku yang singkat. Terlahir sebagai anak terakhir dari tiga anak
laki-laki bersaudara. Masa kecil kami terbilang cukup di manja oleh ibu, namun sikap
tegas dari seorang ayah kepada kami semua, mampu membentuk mental yang kuat bagi
anak-anaknya.
Zahra,
seorang ibu rumah tangga biasa, namun
beliau menjadi sosok Ibunda tercinta bagi kami karena sifatnya yang senantiasa
lemah lembut, sekaligus istri yang paling di sayangi oleh lelaki bernama Ahmad,
seorang pekerja pabrik dan ayah yang mampu
menjadi panutan bagi anak-anaknya.
Kak Hasan
yang pertama, beliau memiliki sifat yang hampir mirip dengan ibu, dua tahun
kemudian kak Umar terlahir, begitu pun hampir mirip dengan sifat ayah yang
cukup tegas. Kurang lebih lima tahun berselang, aku terlahir. Bisa di bilang
perpaduan sifat dari ayah dan ibu maupun kedua kakak lelakiku. Kami terlahir pada
sebuah keluarga yang sederhana namun banyak kebahagiaan di dalamnya, walaupun berada
di tengah-tengah lingkungan sosial yang terbilang sebagian besar berkecukupan secara
materi.
Seiring kami
tumbuh semakin dewasa. Selepas lulus sekolah menengah kejuruan, kak Hasan
memilih untuk bisa langsung bekerja agar dapat membantu meringankan beban biaya
sekolah adik-adiknya. Alhasil, tiga bulan menunggu, kak Hasan di terima bekerja
di sebuah pabrik manufakturing yang cukup ternama. Kami pun mengungkapkan rasa
syukur tersebut dengan mengadakan acara makan bersama keluarga secara sederhana.
Hal itu memang sudah menjadi kebiasaan keluarga kami.
Lima tahun
bekerja, kak Hasan yang merasa sudah cukup banyak membantu sekali biaya sekolah
adik-adiknya memutuskan untuk menikah dan berumah tangga.
Kak Umar pun
mengikuti jejak kakak pertamanya itu. Beberapa bulan setelah lulus sekolah, beliau
di terima bekerja sebagai Admin pada sebuah Rumah Sakit, dan bergantian untuk
membantu biaya sekolah bahkan sampai selesai kuliahku. Beberapa bulan setelah
aku wisuda, Kak Umar pun melangsungkan pernikahannya.
Setelah
menikah kak Hasan dan kak Umar memang sudah tidak tinggal bersama kami lagi.
Masing-masing sudah mampu memiliki tempat tinggal bersama keluarganya. Ayah dan
ibu bersyukur dengan melihat kami mampu menyelesaikan sekolahnya dan berumah
tangga dengan mandiri. Di tambah lagi dengan kehadiran cucu-cucu yang lucu di tengah
keluarga kami.
Hampir
setiap akhir pekan, setiap bulan bahkan acara-acara tertentu kami semua
berkumpul bersama di kediaman Ayah dan ibu. Pastinya dengan aku yang memang
belum berumah tangga.
Tidak lama
setelah wisuda, aku pun di terima bekerja di salah satu perusahaan besar
sebagai staff IT. Ya...memang sesuai dengan jurusan ketika aku di perguruan
tinggi. Aku merasa ini saatnya untuk bisa membantu membiayai kehidupan keluarga
seperti kakakku.
Waktu terus
berlalu, kak Hasan sudah memiliki tiga orang anak, satu putra dan dua putri,
Kak Umar di anugerahi sepasang putra dan putri. Aku sendiri yang hampir
mencapai usia tiga puluh lima tahun belum memutuskan untuk menikah. Sudah
sering keluargaku menyarankan hal tersebut, bahkan tidak sedikit rekan kerjaku
yang mencoba mengenalkanku pada wanita yang sedang mencari pasangan hidup.
Tunggu
dulu...., bukan berarti aku tanda kutip loh ya!!!. Bukan juga karena aku
terlalu banyak memilih dalam mencari pasangan, aku pun punya keinginan untuk
berumah tangga. Tetapi rasanya ada yang masih mengganjal dalam hatiku.
Semakin hari
semakin bertambah usia buat kami semua, terutama ayah dan ibu yang semakin
lanjut usia, dan hanya aku yang tinggal bersama mereka. Terkadang aku berpikir
untuk berhenti bekerja agar bisa merawat orang tuaku. Di sisi lain juga harus
bisa memenuhi kebutuhan hidup kami.
Di sela
kesibukan kami bekerja, aku mencoba untuk mengajak kakak-kakakku kumpul bersama
di suatu tempat untuk membahas agar ada yang merawat ayah dan ibu di saat aku
bekerja. Akhirnya, kami sepakat untuk menggunakan jasa perawat yang mampu
menjaga orang tua kami, walaupun hanya sampai dengan sore hari atau jam aku
pulang bekerja. Biar bagaimana pun aku sebagai anak masih ingin merawat mereka
selepas sore hingga berangkat bekerja. Karena tidak ingin melewatkan kesempatan
untuk menemani di masa tua mereka.
Hampir di
setiap malam, saat orang tuaku terlelap tidur aku memandangi mereka. Rasa haru,
senang dan bersyukur bercampur saat itu,
bahkan banyak perasaan yang tidak mampu di ungkapkan melalui lisan.
Suatu hari,
Ayah dan ibu menanyakan...”kapan kamu akan menikah?, mumpung ayah dan ibu masih
bisa menemanimu saat di pelaminan!”. Ingin rasanya menangis saat itu, namun aku
mencoba menahan itu di depan mereka, tidak ingin membuat mereka bersedih jika
aku menangis saat itu.
“Iya...nanti
jika sudah ada jodohnya aku akan menikah”, jawabku sambil menahan rasa haru.
Mungkin bisa
saja jika aku berumah tangga dan tetap tinggal bersama ayah dan ibu, tetapi aku
masih ingin menikmati masa-masa bersama dengan mereka.
Sebenarnya
aku juga sudah memiliki tambatan hati untuk berumah tangga, wanita itu tidak
lain tidak bukan adalah seseorang yang sudah merawat orang tuaku selagi aku
bekerja. Ya...perawat yang kami gunakan jasanya. Jauh dari sebelum menjadi
perawat di rumahku, kami sudah saling kenal sebelumnya. Karena aku juga tidak
mau orang yang sembarangan untuk merawat orang tuaku.
Wanita itu
pun sudah aku jelaskan bagaimana keadaan keluargaku, dengan mendengar alasanku
kenapa belum mau melamarnya, beliau mengerti dan sekaligus ingin membantu
merawat mereka seperti orang tuanya sendiri.
Sampai-sampai
terkadang ibu menyarankan agar aku dengan perawat itu. Artinya ibu sudah merasa
nyaman dengan beliau. Atau memang ibu merasakan juga bahwa wanita itu cocok
untukku, biasanya naluri seorang ibu akan bermain di situ.
Di satu
kesempatan kami mengadakan acara kumpul bersama keluarga di rumah orang tua
kami. Aku mengajak Nuri, wanita yang sudah menjadi kekasiku sekaligus perawat
orang tuaku.
Sosok wanita
yang cantik parasnya dan lemah lembut seperti ibunda tercinta, usianya hampir
genap dua puluh lima tahun, beliau juga pernah bersekolah di akademi
keperawatan.
Saat kami
berdua masuk ke dalam rumah, sontak saja semua mata tertuju kepada kami sambil
terdiam namun tersenyum. “Hm....sepertinya ada yang main belakang nih dari ibu !”,
ucap ibu sambil terkesan meledek kami berdua.
“Bukan main
belakang bu, hanya pura-pura mendadak lupa saja”, balasku sambil tersenyum.
Saat
kebersamaan itu benar-benar membuat kami semua terlihat bahagia. Dan aku
memberanikan diri untuk menyampaikan keinginanku untuk meminang Nuri sang
tambatan hati kepada ayah dan ibu.
“Besok juga
kita akan datang ke kediaman keluarga Nuri untuk melamarnya”. Ujar ayahku dengan
rasa yakin dan bersemangat.
“Apa tidak terlalu
mendadak ayah?”, tanyaku.
“Setuju...bukankah
lebih cepat itu lebih baik?”, balas kak Hasan dengan cepat.
“Betul itu, nanti
biar langsung di bantu persiapannya sama kakak-kakak iparmu”, lanjut kak Umar.
“Iya, kakak
akan langsung pesan kue-kue ke teman sekarang juga”, sahut kak Rini istri kak
Umar.
“Berarti
sekarang juga kamu dan Nuri ke toko perhiasan untuk membeli cincin”, ucap kak
Umi istri kak Hasan.
Sempat
terdiam sejenak aku dan Nuri, entah kaget, senang atau bingung. Kenapa semua
jadi bersemangat dan juga begitu mendadak.
“Nuri
bagaimana, kamu tidak ada masalah kan?, tanya ibu.
“Kalau semua
keluarga sudah setuju, apa alasanku untuk menolak?”, jawab Nuri sambil tersipu
malu.
“Baiklah,
sekarang aku dan Nuri akan berangkat untuk persiapan besok dan bicara kepada orang
tuanya, kalau besok akan datang silaturahmi dan melamar Nuri”, tegasku.
Keesokannya
acara lamaran berlangsung dengan lancar, yang tercapai sebuah kesepakatan selang
waktu satu bulan lagi akan di langsungkan pernikahan.
Nuri pun
tidak keberatan jika setelah menikah akan tinggal bersama ayah dan ibu. Aku
senang mendengarnya, karena itu artinya kami akan masih memiliki kesempatan untuk
merawat keduanya.
Hari yang
bahagia itu pun tiba, pernikahan kami berjalan dengan baik, lancar dan sesuai
apa yang sudah di rencanakan. Semua keluarga terlihat bahagia, terutama ayah
dan ibu.
“Selamat
berbahagia untuk kalian berdua ya Nak, semoga di berikan keberkahan serta
langgeng sampai akhir hayat!”, doa dari ayah dan ibuku.
“Kami merasa
selesai sudah tugas kami sebagai orang tua”, lanjut mereka.
Saat itu aku
hanya berpikir bahwa kalimat tersebut ungkapan kebahagiaan dari orang tuaku.
Dan aku mengaminkan doanya serta mengucapkan terima kasih.
Namun, tiga
hari berselang setelah acara tersebut. Mendadak sesuatu yang memang di luar
dugaan kami semua terjadi. Biasanya ayah dan ibu bangun tidur lebih awal, pagi
itu justru aku dan Nuri belum melihat mereka. Ternyata mereka masih berada di
kamar.
Aku coba
mengetuk pintu kamar mereka, berniat untuk membangunkan, tetapi tidak ada
jawaban. Akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka pintu itu secara perlahan
agar tidak mengagetkan mereka. Dan ternyata benar, ayah dan ibu terlihat masih
tertidur.
Aku mendekati
mereka seraya memanggil dan menyolek mereka perlahan, namun keduanya masih
terdiam dan tidak bergerak sama sekali. Aku pun semakin mendekat dan
ternyata.... Ayah dan Ibu sudah tidak bernapas. Memastikan hal tersebut, lalu
aku berteriak seraya memanggil istriku Nuri.
“Sayang...sayang...,
cepat kesini!”, teriakku.
Nuri pun
bergegas masuk ke dalam kamar dan dia bingung kenapa aku memanggilnya sambil
berteriak.
“Ada apa sayang,
kenapa berteriak?, sahut Nuri kepadaku.
“Sa...yang, a..ayah
dan i...ibu”, ucapku terengah-engah.
“Ayah dan
ibu kenapa sayang?, coba bicara pelan-pelan”, sambut Nuri sambil mencoba
menenangkanku.
“Me..me..reka
sudah ti..tia..da”, jawabku sambil meneteskan air mata.
“Inna
lillahi wa inna ilaihi rooji’uun...!!!”, sahut Nuri yang langsung memeluk kedua
orang tuaku.
Aku tersadar
atas apa yang di ucapkan ayah dan ibu saat hari pernikahanku. Mereka pun
benar-benar bersama sampai akhir hayat.
“Selamat
jalan para pelita hatiku, semoga di berikan tempat yang lebih baik di sisi-Nya,
Aamiin”.
Komentar
Posting Komentar