Satu Tugas
Oleh: Zakaria Putra
Satu minggu sekali di setiap ahad pagi, rutin di adakan
kajian ilmu Islam bagi wanita oleh salah satu Masjid yang tidak jauh dari
tempat tinggal Sarah.
Sarah adalah salah satu jamaah yang hampir tidak pernah
terlewat untuk mengikuti kajian tersebut. Dia sosok remaja usia dua puluh lima
tahun, dengan wajah manis bila tersenyum. Yang tidak jarang jika lawan jenis
melihatnya mudah tertarik. Namun dia juga terbilang masih menutup diri untuk
masalah asmara.
Sarjana psikologi, gelar yang sudah di dapatkan setelah
menyelesaikan kuliahnya di salah satu perguruan tinggi swasta yang berlokasi di
Bandung. Saat ini dia bekerja di salah satu jasa konsultan.
Biasanya, Sarah lebih banyak mendengarkan dan menyimak
kajian yang di sampaikan oleh Ustazah. Namun terkadang dalam sesi tanya jawab
dia juga sempat mengajukan pertanyaan jika sekiranya belum begitu di pahami.
Mengingat usianya yang sudah terbilang cukup untuk membina
rumah tangga, terkadang Sarah berpikir untuk mulai mencari tahu mengenai ilmu
tentang hal tersebut melalui kajian rutin itu.
Pada satu kesempatan, Sarah berniat untuk menyambangi kediaman
Ibu Ustazah yang biasa mengisi kajian setiap ahad pagi itu. Selain sebagai rasa
hormat ke pada beliau, Sarah juga merasa berterima kasih karena banyak ilmu agama
yang dia pahami selama mengikuti kajian rutin.
Ibu Ustazah Husna, nama panggilan akrab di telinga para
jamaah. Sederhana penampilannya, namun terpandang di lingkungan sekitarnya dengan keilmuan yang
di milikinya.
“Assalamualaikum”, Salam Sarah di depan rumah Ustazah Husna.
“Waalaikumsalam”, Jawab salam dari seorang gadis kecil anak
dari Ustazah.
“Maaf, kakak cari siapa ya?”, lanjut tanya dari anak itu.
“Ibu Ustazah Husna, apakah beliau ada di rumah?”, sahut
Sarah.
“Ada kak, ini dengan kakak siapa ya?”, kembali tanya anak
itu.
“Aku dengan kak Sarah”, jawab Sarah.
“Baik kak Sarah, silahkan masuk dan duduk dulu, sebentar aku
panggilkan ummi dulu”, sahut anak itu.
“Baik adik, terima kasih”, jawab Sarah.
Sarah pun segera masuk dan duduk di dalam rumah beliau. Beberapa
saat kemudian Ibu Ustazah Husna datang menghampiri Sarah.
“Sarah bagaimana kabarnya?”, tanya Bu Ustazah.
“Alhamdulillah baik Bu Ustazah”, sahut Sarah sambil
tersenyum.
Sekalian memberikan buah tangan yang di bawanya untuk Bu
Ustazah Husna. Di lanjutkan dengan
percakapan yang ringan-ringan antara mereka.
Dalam sela-sela percakapan, Bu Ustazah sedikit menyinggung
tentang rumah tangga. Sempat sedikit agak canggung, namun Sarah mulai merasa
antusias membahas tentang hal tersebut. Selain merasa bisa mendapat ilmu
mengenai rumah tangga, Sarah juga menganggap memang sudah saatnya untuk membuka
hati kepada lawan jenisnya.
“Maaf, Sarah sudah menikah belum ya?”, tanya beliau.
“Belum Bu Ustazah”, jawab Sarah dengan sedikit canggung.
“Hm...Tapi sudah ada calonnya kan?”, lanjut Bu Ustazah.
“Mohon doanya ya Bu, biar di segerakan menemukan jodoh”, sahut
Sarah sambil tersenyum.
“Aamiin, Ibu doakan yang baik buat Sarah”, kata Bu Ustazah.
Sarah pun mulai memberanikan diri untuk bertanya mengenai
hal seputar membina rumah tangga dan hal apa saja yang sekiranya di persiapkan
jika ingin menikah. Bukannya Sarah ingin terlalu memilih pasangan, namun dia ingin
tahu ilmunya jika sudah ada lawan jenis yang di sukai bagaimana caranya untuk
meyakinkan hatinya.
“Bu, sebenarnya tugas sebagai seorang istri apa saja ya?”,
tanya Sarah.
“Tugas seorang istri itu sebenarnya hanya satu”, sahut Bu
Ustazah.
“Namun tugas yang satu itu terbilang cukup lumayan susah-susah
gampang di lakukan”, lanjut Bu Ustazah sambil tersenyum.
“Hanya satu!, tapi kenapa bisa begitu Bu?”, lanjut tanya
Sarah sedikit penasaran.
“Iya, justru tugas yang satu itu akan banyak aplikasinya
dalam rumah tangga”, jawab Bu Ustazah.
“Saya masih belum paham maksudnya, kalo boleh tahu apa itu
ya Bu?”, Sarah kembali bertanya.
“Taat kepada suami, itu adalah satu tugas sebagai istri
dalam rumah tangga”, tegas Bu Ustazah.
Komentar
Posting Komentar